Jumat, 24 Desember 2010

Kebudayaan Islam itu Bukan Kebudayaan Arab

Nama : Sari Patmawati
NIM : 1210201097
Prody : Ki/B/1



Perkembangan Islam di nusantara dengan segala keragaman dan budayanya, tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah masuknya Islam di nusantara. Munculnya Nahdhatul Ulama yang lebih akulturatif terhadap kebudayaan dan Muhammadiyah yang puritan juga tidak bisa lepas dari konteks ini. Tentang bagaimana Islam masuk ke nusantara dan perkembangannya, berikut adalah wawancara Fachrurozi dan Deni Agusta dari Pusat Studi Islam dan Kenegaraan dengan Abdul Hadi WM di Univ. Paramadina. Berikut pandangannya tentang Cak Nur.
Secara kultural, Islam Indonesia berbeda dengan Islam yang ada di Timur Tengah, juga dengan Islam yang ada di Afrika Utara dan Eropa, apa karakteristik utamanya yang menyebabkan itu berbeda?
Karena faktor-faktor historis perkembangan Islam Indonesia, di sisi lain adalah masa yang berkembang, kemudian corak Islam yang berkembang yang dibawa ke Indonesia pada permulaannya, di mana Islam hanya sebagai proses informasi. Informasi itu kan melalui media juga bisa, melalui dialog, atau juga bisa melalui intergrasi. Dari situ bisa terjadi proses dengan sendirinya.
Di Indonesia itu pertamanya secara mazhab fiqh, dalam mazhab orang-orang Syafi’i yang berbondong-bondong pada abad ke tiga belas setelah perang Salib menaklukkan Mongol. Kenapa kok mereka yang nongol? Orang-orang Sunni di Baghdad itu biasanya itu selalu berkonflik dengan orang-orang Syiâah atau dengan pengikut Hanafi. Dan ketika terjadi konflik, mereka berkumpul di Yaman. Dan mereka itu selalu mengungsi ke Yaman, dan memang Yaman adalah pelabuhan raja. Di mana mereka bisa melanjutkan perjalanan ke Afrika dan Timur Tengah.
Sedangkan mazhab Hanafi itu, kalau lari pasti ke Asia Tengah. Sedangkan kalau Syi’ah, tentu saja tadi. Tentu saja kemudian, di antara penganut-penganut itu bukan saja dari Arab Saudi, tetapi orang-orang Arab, Turki, Persia, itu loh ya? Yang membawa kebudayaan Turki, Persia. Untungnya itu kultur tertutupi. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pertumbuhan Islam di dunia Melayu sudah bercorak intelektua. Itulah yang bisa dicatat dalam dimensi yang sangat kuat. Hal itulah yang sampai ke dunia Melayu.
Nah, di Dunia Melayu kebetulan terjadi kekosongan kultur, setelah hancurnya kerajaan Sriwijaya yang dihancurkan oleh Majapahit. Agama Budha sudah mati, disebarkan agama Hindu, Islam juga berkembang, dalam pertarungannya dan kemudian agama-agama tersebut akhirnya memeluk agama Islam.
Karena agama Islam yang masuk itu melalui masyarakat penduduk luar? Para pedagang-pedagang, dan itu tidak sulit bagi raja-raja Islam di kepulauan Melayu. Maka terintegrasilah kebudayaan Melayu dengan Islam. Sehingga tidak bisa dipisahkan antara Islam dengan Melayu. Seperti tidak bisa memisahkan antara orang India dengan orang Hindu? Seperti orang Thailand dengan orang Budha? Jadi seperti melekat begitu.
Dalam Islam banyak sekali peradaban-peradaban yang masuk. Seperti India, ada Arab Persia, Arab Turki, lalu apa sumbangannya terhadap Islam itu sendiri?
Pola pertama, kalau bicara peradaban Islam dari segi keterpelajarannya, tradisi keintelektualnya, yang meliputi penulisan kitab kuningnya, keagamaan, dan kesusastraan. Kalau anda membaca manuskrip-manuskrip yang ditulis dari abad ke-14 sampai ke-19, di dalam bahasa Melayu terutama 99 lebih itu ditulis dalam bahasa Melayu. Di dalam bahasa-bahasa nusantara lainnya juga seperti itu.
Datangnya Islam lewat Melayu, membuat tradisi intelektual juga berkembang di kalangan-kalangan etnik-etnik yang bukan berbahasa Melayu juga berkembang. Baik itu sastra Bugis, sastra Minangkabau, Madura, dan lain-lain juga berkembang pesat pada saaat itu. Di waktu yang sama, sastra Jawa saja yang berkembang, tidak terpusat pada suatu lokasi.
Pola yang kedua, pola ini lahir di Jawa. Di Jawa, Islam datang dari kalangan bawah, terus menengah, tapi setelah Islam di peluk oleh masyarakat banyak, di pedalaman itu masih meneruskan sistem legitimasi jaman Majapahit. Yang pada saat kekuasaan jaman Majapahit Hindu dengan Islam itu berbeda. Pola Hindu itukan raja mendapat legitimasi dari langit. Sebagai suatu agama, ya sudah semestinya merakyat. Kulturnya juga mempengaruhi, tetapi sebagai gerakan soaial politik, oposan Islam itu dianggap sebagai sumber pembangkangan terhadap kekuasaan.
Di dunia Melayu itu kan kolonial sekali, iya kan? Coba saja kamu tinggal di wilayah Melayu dengan datangnya modernisasi, praktis kok? Konfliknya tidak terlalu berjalan lama, kecuali di Aceh. Di Brunei, di Malaysia, dan kerajaan-kerajaan Melayu. tetapi Islam menjadi gelisah ketika di Aceh dan di Jawa. Karena ini berhadapan dengan kekuasaan feodal dan juga kekuasaan kolonial. Itu benar-benar secara politik.
Jadi radikalisme itu, benar-benar bersentuhan dengan agama, politik, ekonomi
Iya? dia itu sebetulnya, mula-mula politik kan sebetulnya? Tapi kemudian setelah munculnya wacana, dengan munculnya Wahabisme yang menekankan kepada syari’at, kemudian muncullah gerakan-gerakan radikalisme yang mengambil aktualisasi social budaya dan social politik juga social ekonomi. Tapi sebetulnya mereka juga mengaju kepada modernisme. Mereka juga sebenarnya bagian dari modernisme tetapi menentang apa-apa yang tidak berkenan.
Hal demikian terjadi pada masa kerajaan. Dengan berbagai macam sistem dan keyakinan beragama yang memiliki kasta-kasta. Dan Islam tidak mengenal itu. Nilai-nilai egalitarian dalam Islam sangat kental sekali, sehingga Islam mudah masuk dalam wilayah nusantara. Tapi dalam perjalananya gerakan politik Islam jauh dari nilai-nilai keagamaan yang egalitarian.
Egalitarian itu terbendung dengan adanya proses kolonialisasi dan feodalisasi juga dengan kuatnya pengaruh keraton dan kolonial? Kalau gerakan-gerakan seperti egaliter, contohnya Sarekat Islam. Karena orang sarekat ini kebanyakan adalah pedagang. Itu dibayar, penerapannya berdasarkan keilmuan. Kemudian sebagai reaksi perspektif yang ke dua, tentunya dalam bentuk Muhammadiyah, sebagai gerakan modernis yang di dalamnya anti dengan tarekat ini betul-betul egaliter-egaliter modern nasional.
Tapi ini anti kultural, semua kebudayaan yang ada di anggap kosong, intinya dia mengadopsi Barat tentunya. Nah, dia itu menghamparkan pondasinya tetap bulat. Dan pondasinya itu adalah Al-Qur’an. Pengaruh-pengaruh itu diakibatkan datangnya dari pemikiran rasionalisme dari barat sejak Napoleon mengalahkan Mesir. Kenapa di Mesir? Bukan di India? Karena dia bentroknya dengan Inggris, dan pembaharuan itu kan adanya jika bukan di Mesir ya di India.
Yang ketiga, yang mewakili kejawatan.itukan yang mewakili NU? NU ini respon terhadap Wahabi. Sebetulnya, ketika kekhalifahan Utsmaniah hengkang dari Mekkah. NU itu bukanlah sebagai basis ekonmomi. Ini adalah country yang agraris yang feudal, basic-nya itu adalah Jawa Timur. Karena Jawa Timur, setelah runtuhnya Majapahit dan munculnya Mataram itu, hampir tidak ada kerajaan. Lapisan-lapisan Hinduisme itu sudah tebal di Jawa Timur. Jadi Islamnya juga tebal, makanya terjadilah strata yang agak feodalistik.
Kembali ke perkembangan pada abad dunia lain, tadi disebut Persia, India, dan lain-lain. Mungkin ada contoh peradaban lain yang bisa di apresiasi ke dalam kajian Islam yang menunjukkan keindonesiaan?
Tipikal keindonesiaan itu sebetulnya banyak sekali, tapi tidak terlalu luas, jadi mesti hati-hati dalam menyebutkan bahwa misalnya, apa yang di sumbangkan di dunia Melayu itu kan tidak sama dengan di Jawa. Dengan pola kedua adat, di mana yang memeluk Islam, melalui rajanya kemudian diikuti oleh rakyat, ada sedikit semacam pemaksaan, dan segala macamnya, menunjukkan wajah kultur Islam yang berbeda-beda.
Apakah hal itu bisa dikatakan orisinal?
Yang orisinal itu apa sih di dunia ini? Dalam artian, kadang-kadang dalam wacana keislaman selalu mengacu pada orisinalitas? Nilai-nilai keagamaan?
Ya, globalisasi itu, Itu mula-mulanya penyebaran Jawa didukung oleh hasrat duniawi. Tapi hasrat-hasrat penyebaran agama itu kan mengikuti pada jalannya Jadi sangat sulit mengetahui mana yang murni, dan mana yang tidak murni?
Apa yang paling menonjol dari peradaban kebudayaan Islam?
Jika di bandingkan dengan agama Hindu dan Budha, lembaga pendidikan agama Islam egaliter, orang bisa masuk agama Islam tanpa harus jelas kelas-kelas sosialnya. Kenaikan status sosial diukur dari kecerdasan. Sehingga mobilitas sosial itu begitu cepat.keterpelajaran ini, menjadi lumrah. Nah, hal itu wajar sekali jika dalam kepulauan Melayu, di mana Islam berinteraksi, orang yang melek hurup bahasa Arab itu hanya baru kebelakang saja. Sekarang kan ada yang dengan huruf Latin atau Arab Melayu.
Orang yang di Jawa pedalaman yang Islamnya tipis itu, jangankan membaca hurup Arab, atau membaca huruf Latin, membaca huruf Jawa saja belum tentu bisa. Orang-orang di Melayu pesisir itu pasti bisa huruf Arab, Itu kultur. Tetapi ketika ini tidak ditutup atau tidak di ajarkan lagi? Asas generasi muda Islam ini terhadap wacana intelektualnya yang masih ditulis dalam tulisan Arab, akan terputus. Maka akan terjadilah kemiskinan. Jangan salah, alat-alat tadi itu kan percaya ia memperkenalkan rasionalisme pada Islam. Karena ilmu-ilmu yang diajarkan itu kan banyak yang berdasarkan pemahaman Aristoteles. Pada zaman Hindu, karena memang Budha dan Hindu lebih menekankan pada methodologi, sehingga karangan-karangan ilmiah itu jarang dibahas, tetapi lebih ke kitab-kitab yang berisikan cerita fiksi. Dan itu tidak dihukum.
Pada Islam, selain karya-karya, ilmu-ilmu yang sistematik itu juga sedikit. Ilmu penegakkan dan lain-lain, dan ketika generasi awal generasi intelektual Melayu yang tradisional, ketika dia mempelajari tradisi Barat tidak benar-benar betul. Karena modalnya tidak ada dalam Islam, artikulasinya segala macam. Kenapa bahasa Melayu yang bertata bahasa Arab ada singgungannya dengan bahasa Yunani itu lebih mudah ditentukan jadi bahas modern dibandingkan bahasa Jawa, yang tata bahasanya berliku-liku.
Lembaga pendidikan pertama-tama selama jaman Hindu itu untuk kaum pendeta dan satria saja. Jaman Islam tidak naik dan karena kemudian Islam membangun jaringanâ“jaringan, model kekuasaan Islam yang diperkenalkan ke seluruh nusantara itu menyeru, model seruan Islam agar siap tidak tersentralistik. Jadi Islam itu membuat kekuasaan di sini, di sini, dan di sini, tetapi antara satu sama lain saling berhubungan. Jadi terpencar-pencar, yang penting bukan integralisme dan memang tidak menginginkan integralisme. Punya otonomi dan kemandirian sesuai dengan kondisi masing-masing dibuat berdasarkan syari’ah.
Jadi syariâ’ah Islam disesuaikan dengan kondisi-kondisi setempat, sebagaimana dijadikan hukum atau undang-undang. Setelah itu baru pertaliannya, di mana dalam tradisi intelektual, keilmuan. Karena mazhab yang digunakan dan dipelajari adalah imam Syafi’i, teologinya Asy’ary, karena itu undang-undang adatnya itu juga diangkat dari fiqh-fiqh mazhab Syafi’i dan itulah yang mempersatukan. Jadi persatuannya lebih kepada persatuan batin.
Kenapa mazhab Syafi’i lebih dominan dalam konteks Indonesia? Ya karena gelombang yang paling awal mengungsi di Indonesia dan menguasai perdagangan pada saat itu adalah Mazhab Syafi’i, mereka menguasai pelabuhan dari Yaman sampai Guzarat dan memang itu adalah yang paling stategis. Karena apa? Mazhab-mazhab lainnya, Maliki terjauh di Afrika Utara, itu mereka tidak mempunyai aset untuk ke timur. Karena itu, sudah masuk pada kekuasaan mamluk. Ini dikuasai oleh orang-orang Mongol pelayaran di Alam Sutera ini sehingga tidak mungkin melalui jalan darat. Baru pada abad ke-15 orang-orang mazhab Hanafi itu bisa keluar setelah runtuhnya dinasti Timur Lang itu. Jatuhnya Iran (Persia) ke tangan dinasti Syafawi yang Syi’ah.
Dan pada abad ke-16 orang-orang Sunni mazhab Syafiâi banyak yang diusir dari Iran dan mereka yang mendapatkan keuntungan adalah India dan Indonesia, kaum intelektual ini bekerja, karena di sini terdapat kerajaan Aceh, Mongol, nah dari sinilah mereka mengembangkan kultur.
Masuk ke soal sufisme dan kesenian yang menjadi, dalam pikiran kami kalau membaca karya bapak, ternyata sufisme itu lebih mengapreasiasi kesenian, menurut pak Hadi bagaimana?
Tokoh-tokoh sufi pada awalnya memang cenderung pada kesenian dan kesusasteraan, karena dari pendapat-pendapat tadi itu bersifat imajinatif dan pengungkapannya paling mungkin dalam puisi dan fiksi. Dan mereka terbiasa. Kemudian dalam upacara ritual, mereka itu terbiasa menggunakan musik, tarian untuk upacara keagamaan mereka. Nah, dari sini banyak pula ulama-ulama yang mencintai tradisi seni seperti syeikh Saman, kemudian Rumi. Dan masyarakat tidak selamanya bisa dikurung di dalam tempat formal seperti rumah, masjid, karena itu mereka membuat tempat-tempat ziarah untuk melepaskan hirarki jiwanya yang tertekan.
Kenapa lebih dominan sufismenya ketimbang filsafatnya? Tidak, sebetulnya begini, sampai abad ke-18 lebih dahulu Melayu, sebelum munculnya gerakan yang menekankan kepada syariâah terutama ketika munculnya tarekat Al-Kindi, filosofis itu berkembang yang melahirkan tokoh-tokoh yang dekat dengan intervensi dan banyaknya ulama yang terlibat langsung kepada pemerintahan dan cenderung pada syari’ah, maka itu akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan struktural dan perkembangan tarekat-tarekat sufi sehingga lebih meningkatkan syariâat dan mengabaikan aspek-aspek yang filosofis dan artistik ini. Padahal kalau seni merupakan ujung tombak untuk menyiarkan agama di kalangan masyarakat dan filosofis ini dasarnya adanya kalangan peradaban Hindu dan Budha kaum intelektual itu senang filsafat. Nah, ini lah yang dilayani oleh ulama filosofis itu. Nah, ketika ahli fiqh datang mereka tidak senang ketika terjadi tarian, Jawa menjadi Kejawen.
Kalau melihat dan membaca puisi Rumi dan Iqbal sangat dominan dalah hal itu, apa kontribusi mereka dalam khazanah intelektual Islam dan juga termasuk kesenian? Ada tiga kelompok sufi. Pertama ada kelompok yang kita golongkan al-qatalian, yang menekankan pada akhlaq. Kedua, Ibnu Arabian lebih pada pendidikan. Ketiga, seni. Ketiga-tiganya itu memiliki kontribusi dalam perkembangan tradisi itelektual dan kebudayaan Indonesia. Banyak sekali legenda-legenda yang kemudian menjadi sumber inspirasi menciptakan kebudayaan berasal dari terminologi-terminologi yang dibuat oleh Attar dan Rumi ini. Kalau anda ke Melayu itu Buluk Rindu (nyayian seluring Rumi), kemudian simbol-simbol burung (simok) menguasai seni ukir, batik, itu ada di mana-mana.
Apakah itu pengaruh dari metodologi kesenian?
Tidak bisa, karena orang Islam yang datang ke sini sebelum datang, dia sudah terebih dahulu tahu tradisi Hindu, tidak perlu diajarkan di Jawa, cukup diajarkan ke India saja dan kebudayaan Persi itu saudara sepupu dari kebudayaan India, dari situ kita cukup belajar tidak perlu diajarkan lagi dan itulah untuk memandang sejarah.
Dalam peradaban itu, mengutip hiasan dan lukisan Islam, banyak dipengaruhi dari Cina. Karena orang-orang Cina yang dibawa orang-orang Mongol untuk mempengaruhi perkembangan seni pokok Islam dan orang-orang inilah yang membawa ke Indonesia.
Kemudian sebenarnya Islam itu menyatukan kebudayaan-kebudayaan dari berbagai peradaban yang datang ke dunia Islam dan kemudian memberikan kebudayan-kebudayaan tersebut kepada orang-orang yang memeluk Islam. Sehingga kebudayaan Islam itu, bukan budaya orang Arab karena kontribusinya bukan hanya dari orang-orang Arab tapi banyak kebudayaan.
Tapi kenapa dalam proses perjalanannya, ketika berbicara Islam selalu identik dengan Arab?
Semua terjadi kemudian setelah abd ke-18, diawali dengan runtuhnya kekhalifahan Islam dan munculnya negara-negara kolonial dan kemudian dijajah Barat yang kemudian mengakibatkan putusnya hubungan induknya (Persia), ketika terpecah belah terjadilah lokalisasi, ketika terjadi lokalisasi terjadilah kecenderungan legalistik pada tarekat fiqh dengan mengedepankan artistik filosofis dan estetiknya itu. Kedua munculnya gerakan Wahabi yang semakin menghabiskan dengan tahyul-tahyulnya itu, kemudian Arab dihabiskan dan berkuasa pada tahun 1920 kira-kira seperti itu. Ketiga, munculnya modernisme karena bertolak dari semangat pencerahan di Barat terhadap kultur. Kenapa itu terjadi? Karena gerakan pemurnian agama, gerakan modernisme, gerakan kolonialisme.
Sementara itu golongan yang kita dipengaruhi pemikiran posmo, yang relatif nilai pada pendangkalan dan komersialisasi. Jadi kultur itu tidak didapatkan di mana-mana, kecuali di negara-negara yang sejak awal sudah membentengi. Seperti Jepang menerima Barat hanya tekhnologinya, sainsnya, tapi filsafat hidupnya tidak. Dia bisa memoles kolonialisme menjadi idiologi universal yang bisa menerima bentuk-bentuk peradaban sebagaimana Islam pada zaman Abbasyiah.
Islam yang sekarang ini merupakan Islam yang legalistik, Islam yang diterjemahkan secara formal tidak menuntut kemungkinan berkembang.
Bagaimana pendapat bapak mengenai kebebasan beragama?
Di dalam Islam kemajemukan itu sudah dipelihara sejak lama dan itu merupakan warisan dari zaman dahulu. Ada proses itu tidak berjalan pasca perang Salib, ketika orang-orang mongol sudah menaklukkan Bagdad terjadi skisme-skisme dalam Islam, usaha Al-Ghazali untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu Islam itu setengahnya berhasil dan setengahnya tidak karena dipotong karena munculnya penaklukkan Mongol tersebut. Kalaupun harus dirumuskan konteks kebudayaan Islam dalam pijakannya pada Bumi Nusantara, kira-kira rumusannya seperti apa?
Islam di Nusantara itu tergantung wilayah. Wilayahnya itu ada rumpun Islam dengan gaya Melayu dan tarian-tariannya itu Minangkabau dan segala macamnya, mempunyai karakter sendiri. ada karakterisktik Islam Jawa yang terbelah dua, Islam Jawa Pesisir dan Islam Jawa yang dekat dengan keraton feodal itu, yang satu mengarah pada mistik dan satu mengarah pada kehidupan duniawi.
Artinya bahwa keberagamaan inheren dalam Islam?
Tentu saja konflik agama itu terjadi sejak zaman Hindu atau pun zaman Islam, tentu sering orang-orang dari mazhab Syiwa dan Brahma itu berkelahi pada zaman Hindu dahulu. Tapi ada sikap-sikap toleran di dalamnya, sebetulnya itu yang tidak diterjemahkan dengan baik sehingga kita kebingungan oleh bangsa kita ini, pemimpin kita.
Dalam konteks nasionalisme di Indonesia–tercermin dalam pidatonya Soekarno dan Hatta–memang ada agama-agama yang diakui dalam hal ini inheren dengan kebhinekaan. Artinya dalam sejarah itu, yang memberikan kontribusi besar dalam pada peradaban Hindu, Budha itu jelas diakui dan kemudian Islam Sunni maupun Syi’ah, kemudian Agama Protestan dan Katolik. Kenapa Khonghucu terpisah, karena agama-agama yang dibawa etnis dan dibawa oleh orang asing ke sini. Dalam konteks kenegaraan mereka tidak mendapatkan jaminan untuk berkembang dalam bentuk financial.
Bagaimana dengan kasus Ahmadiyah?
Ahmadiyah ini, mereka tidak meragukan bahwa Mirza Gulam Ahmad seorang Rasul tetapi pemiikiran-pemikiran orang Ahmadiyah itu bermanfaat bagi dia untuk memahami konsep modern. Jadi sebetulnya menurut saya kalau Ahamadiyah tidak tampil sebagai jemaat yang tampil sebagai pemikir-pemikir gerakan-gerakan, saya kira tidak ada masalah, masalahnya ini menjadi ekslusif. Kasus ini juga yang dialami oleh DDII, Lemkari. Nah, itu sulit dipecahkan secara hukum dan saya bukan ahlinya, bagaimana menempatkan dalam konteks hukum sedangkan kapasitasny bukan dalam konteks ini?
Untuk masalah pembubaran serahkan saja kepada hukum, tetapi ini ada elemen masyarkat yang bisa juga ditunggangi oleh kepentingan lain untuk membuat tujuan tertentu. Jadi menurut saya, pro dan kontra itu saling mengkaitkan diri saat ini untuk tidak membuat konflik horizontal, biarkan saja. Negara berpikir apa saja tapi juga jangan dipanas-panasi supaya menolak usulan ini.
Kalau begitu bagaimana menurut bapak apa yang harus diselesaikan dari problem Islam Indonesia?
Ya mesti diselesaikan, jangan terlalu membawa wacana ke dalam wilayah politik demi kepentingan ekonomi, idiologi, dari situlah sumber konflik. Tapi kalau dibawa pada dialog kultural maka tidak ada masalah. Karena itu, kita terima perbedaan pandangan dan jangan menggunakan wacana kekerasan.
Bagaimana pak Hadi mengenal Cak Nur dalam konteks pemikirannya? Di sisi mana syeikh seiring dengan pemikiran-pemikiran Cak Nur dan di sisi mana merasa berbeda?
Cak Nur tipologi orang yang belajar di pondok kemudian mencari bandingan dari wacana-wacana intelektual Barat yang orientalik. Hal ini untuk mengeritik kondisi umat Islam yang ada di Indonesia dan itu syah-syah saja. Kalau itu terasa menyakitkan memang iya. Masalahnya kita tidak terbiasa dengan wacana ini. Bagaimana ke depan yang ini bisa berjalan dengan baik, peranan lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi, karena lembaga perguruan tinggi tidak ada istilah peradaban Islam diajarkan, sekarang ini tidak ada model seperti itu, yang ada adalah model peradaban dan pendidikan Barat.
Sementara itu kelompok-kelompok pengajian itu terlalu oriented PKS, yang dari ikhwanul Muslimin, yang semuanya itu sebetulnya ahistoris dalam konteks keindonesian. Misalnya Hasan Al-Banna muridnya Abduh kalau dia berkata pada Abduh maka dia berkata dengan Muhamadiyah.
Cak Nur itu melihat Islam di Indonesia, pengetahuannya lebih berat ke Jawa, dan perkembangan zaman dan tidak terhitung yang Melayu itu. Kalau kita lihat segmen masyarakat Islam di Indonesia, kalau gerakan Islam pembaharu ini kebanyakan lebih dari Sumatera, Melayu, dan Jawa Barat. Tapi kalau yang tradisional itu lebih dari Jawa Timur, Jawa tengah dan terminologi ini tidak sama dengan menggunakan pendekatan yang berbeda.
Selama ini dikalangan umat Islam yang berbicara konteks hukum, selalu mengacu pada kekuatan konvensional. Artinya ini akan terus mengalami ketegangan ketika tidak dilihat sebagai sebuah hukum.
Kebudayaan mana lebih dahulu tumbuh dibandingkan negara? Negara lebih awal, kalau kebudayaan dibuang, negara tidak punya asas spiritual. Kebudayaan harus dipertimbangkan juga, jangan berpikir law to law apapun alasannya. Tidak akaa bisa ketemu kalau seperti ini. Dan ini akan terjadi ketersinggungan-ketersinggungan antara ketiga kekuatan, pertama, kekuatan yang modernisme yang berpijak pada rasionalisme, kemudian fundamintalisme keagamaan, Posmo yang bergerak dalam bidang konsumerisme itu akan terus ada di dalam sejarah peradaban Indonesia. Kalau itu tidak ditranformasikan ke dalam bentuk dialog maka itu akan tidak produktif, dan kita tunggu saja konflik itu terjadi. Kaum Posmo itu memanfaatkan reaksi pasar bebas lihat saja film-film ML apakah itu di tunggangi atau apa?
Selajutnya bagaimana bapak melihat MUI sebagai sebuah lembaga yang mempersatukan ulama, selain MUI sebagai lembaga yang mengeluarkan fatwa?
Di dalam Islam itu tidak ada kependetaan, tidak ada gereja dalam pengertian itu. MUI itu hanya menyalurkan apresiasi-apresiasi ormas-ormas Islam yang ada. Nah, kalau membenahi yang harus dibenahi itu adalah ormas Islam ini, dan kepemimpinan tradisi ini. Fungsi ulama di Indonesia itu, agen kebudayaan, dan harus memiliki pemikiran-pemikiran yang cemerlang, untuk mencerdaskan umat, melakukan hal-hal yang dapat membantu kepentingan rakyat agar tidak terjadi kebodohan yang panjang.
Jadi menurut saya kita dalam posisi seperti itu, reflektis saja. Artinya pikiran-pikiran ini kita godok dalam pikiran kita dengan cara dialogis bukan konfrontatif. Kalau konfrontatif, banyak musuh kita ini. Ini masalah orang awam, masalah orang bodoh itu tidak bisa dirubah seketika jiwanya, lain dengan di Amerika dengan budaya tulis. Budaya tulis itu untuk membaca reaksi, misalnya mendapat berita kemudian mereka merenung dulu apa yang akan disampaikan, tidak dengan budaya kita yang lisan, baru saja melontarkan, langsung mendapatkan reaksi-reaksi miris, sebelum melakukan perenungan atas jawaban sudah mendapatkan reaksi.

Pembelajaran Agama Dengan Metode Contextual Teaching and Learning

Nama : Sari patmawati
NIM : 1210201097
Prody : Ki/B/1



Para guru agama sering kali mengeluhkan kurangnya jam pelajaran agama dalam menyelesaikan materi kurikulum yang ditentukan. Yang terjadi kemudian adalah pembelajaran agama berusaha untuk menyuguhkan materi pembelajaran agar tuntas materinya sehingga tampak suguhan kognitif jauh lebih banyak mewarnai KBM agama. Mereka kemudian menginginkan penambahan jam pembelajaran agar lebih leluasa menyampaikan materi.
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa seorang pembelajaran, peserta didik, akan mau dan mampu menyerap materi pelajaran jika mereka dapat menangkap makna dari pelajaran tersebut. Dalam buku Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna karya Elaine B. Jhonson yang diterjemahkan oleh Ibnu Setiawan, disebutkan bahwa CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. (2006: 58)
Perlu dipahami oleh para guru agama mengenai filosofi CTL ini dan menerapkannya dalam KBM di kelas agar agama tidak menjadi pelajaran menghafal dan dogmatis tanpa bersentuhan dengan konteks kehidupan siswa dan kebermaknaannya. Dalam pelajaran agama, anak memperoleh pengetahuan bahwa Allah SWT mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk menjadikan kehidupannya sebagai ibadah kepada Allah SWT. Inilah tujuan penciptaan kehadiran manusia di dunia. Apakah tujuan ini dimaknai secara benar oleh siswa? Atau sekadar menghafal ayat bahwa hal itu ditemui dalam Al Quran Surat Adzariyat : 56?.
Para guru agama dalam penerapan CTL diharuskan menghadirkan konteks pembelajaran, bukan sekadar isi pelajaran. Isi pelajaran merupakan sesuatu yang akan diperlajari berupa pengetahuan yang hampir tanpa batas dan semua guru agama mengetahui akan hal ini. Isi agar bermakna harus dipelajari dalam konteks. Adapun konteks dalam pemahaman CTL meliputi :
1. Lingkungan yaitu dunia luar yang dikomunikasikan melalui pancaindera
2. Kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi di suatu tempat dan waktu
3. Asumsi-asumsi bawah sadar yang diserap selama siswa tumbuh, dari keyakinan yang dipegang kuat siswa yang diperoleh melalui nilai-nilai yang diterimanya
Pembelajaran isi agama agar relevan hendaknya memperhatikan keselarasan konteksnya. Ketika guru menyampaikan materi tentang beriman kepada Allah SWT, guru hendaknya mengajak siswa pada peristiwa kehidupan yang dapat diungkap oleh siswa, kejadian-kejadian yang menimpa manusia yang tidak beriman, dan kesadaran terhadap firman Allah yang ditulis dalam kitab suci-Nya. Jadi, guru tidak secara dogmatis menyampaikan ayat-ayat yang memerintahkan untuk beriman kepada Allah SWT. Adanya kesadaran setiap siswa untuk selalu beriman kepada Allah SWT hendaknya muncul dari siswa melalui serangkaian pengalaman belajarnya di kelas atau di luar kelas. Dengan begitu Insya Allah akan muncul kesadaran bahwa Allah mengawasinya, Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap perbuatannya, dan seterusnya.
Agar guru selalu memelihara KBM-nya dalam genggaman CTL, guru perlu memastikan 8 prinsip CTL hadir dalam setiap KBM-nya, sebagaimana diungkap Elaine (2006: 65-66):
1. membuat ketrkaitan-keterkaitan yang bermakna
2. melakukan pekerjaan yang berarti
3. melakukan pembelajaran yang diatur sendiri
4. bekerja sama
5. berpikir kritis dan kreatif
6. membantu individu untuk tumbuh dan berkembang
7. mencapai standar yang tinggi
8. menggunakan penilaian yang autentik

Jika hal tersebut dilakukan, pembelajaran akan menjadi mengalir dan bermakna. Nilai-nilai agama akan menjadi kebutuhan bukan kewajiban atau pemaksaan.

Keutamaan amal ibadah ditentukan oleh empat hal utama ini:
1. Memperhatikan waktunya.
Misalnya, ibadah yang paling utama di bulan Ramadhan adalah qiyamullail. Berdasarkan sabda Rasulullah Saw:
"Siapa yang mengisi malam bulan Ramadhan dengan keimanan dan ibadah, niscaya baginya diampunkan dosa-dosanya yang telah lewat." Dan berderma, karena Rasulullah Saw: "beliau paling dermawan saat berada pada bulan Ramadhan". Amal ibadah yang paling utama pada bulan Muharram dan Sya'ban adalah puasa, berdasarkan sabda Rasulullah Saw: "Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram."
Dan perkataan A'isyah r.a.: "Aku dapati Nabi Saw paling banyak berpuasa pada bulan Sya'ban." Amal ibadah yang paling utama saat mengajarkan orang yang ingin belajar adalah: bersungguh-sungguh untuk mengajarkannya, dan meninggalkan pekerjaan yang lain. Dan ibadah yang paling utama saat wuquf di Arafah adalah: berusaha untuk bermunajat, berdo'a, dan berdzikir, serta tidak berpuasa yang dapat melemahkan tubuh untuk melakukan semua ibadah tadi.
Ibadah yang paling utama pada waktu menjelang subuh adalah: shalat dan istighfar. Berdasarkan firman Allah SWT: "dan yang memohon ampun di waktu sahur." Ali Imran: dan amal ibadah yang paling utama saat berbuka adalah: berdoa. Berdasarkan sabda Rasulullah Saw:
"Tiga kelompok orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa saat ia berbuka puasa, ...".
Amal ibadah yang paling utama saat mendengarkan adzan adalah, membalas ucapan adzan tersebut.

2. Memperhatikan Tempat.
Misalnya shalat yang paling utama dilakukan di masjid adalah shalat wajib. Sementara untuk shalat sunnah,yang paling utama adalah jika dillakukan di rumah. Berdasarkan sabda Nabi Saw:
"Shalat yang paling utama bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib."
3. Memperhatikan Jenis Ibadah.
Jenis shalat lebih utama dari jenis membaca Al Qur'an. Jenis membaca Al Qur'an lebih dibandingkan jenis dzikir. Jenis dzikir lebih utama dibandingkan jenis do'a. jenis jihad lebih utama dari jenis ibadah hajji. Bahkan di antara satu jenis ibadah sendiri ada perbedaan keutamaan antara satu macam dengan macam yang lain. Misalnya:
"Puasa (sunnah) yang paling utama adalah puasa nabi Daud, yaitu berpuasa satu hari dan berbuka satu hari". Dan "Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah bagi sanak keluarga yang membenci kita." Dan "Syuhada yang paling utama adalah yang darahnya ditumpahkan musuh, dan kendaraannya dirusak musuh". Dan "Dzikir yang paling utama adalah: la ilaha illah Allah, dan doanya yang paling utama adalah: alhamdulillah." Dan "Jihad yang paling utama adalah membela kebenaran di hadapan penguasa yang lalim."
4. Memperhatikan Situasi dan Kondisi.
Memperhatikan situasi dan kondisi mencakup memperhatikan potensi masing-masing peserta kompetisi dan kelebihan yang mereka miliki. Amal ibadah yang paling utama bagi orang yang dikuasai oleh sikap masa bodoh terhadap siksaan Allah SWT dan yang tertipu oleh dirinya sendiri adalah: dengan merasa takut kepada Allah SWT. Amal ibadah yang paling utama bagi orang yang dikuasai oleh keputus asaan dan patah harapan dari rahmat Allah SWT adalah: menumbuhkan sikap pengharapan kepada-Nya. Amal yang paling utama bagi orang yang junub adalah: mandi besar. Amal yang paling utama bagi orang yang takut impoten adalah: segera menikah. Amal yang paling utama saat kedatangan tamu adalah: melayani dan menemuinya, dibandingkan wirid yang sunnah. Amal ibadah yang paling utama saat membantu orang yang ditimpa kesulitan adalah: memfokuskan diri untuk membantunya dan menolongnya, dan mementingkan hal itu dibandingkan wirid dan khalwatnya. Amal ibadah yang paling utama saat seorang muslim sakit adalah: menjenguknya. Dan amal ibadah yang paling utama saat kematiannya adalah: menyaksikan jenazahnya. Amal ibadah yang paling utama ... dst.

TUGAS ARTIKEL

Nama : Sari patmawati
NIM : 1210201097
Prody : Ki /B/ 1

Ujian Nasional
Ujian Nasional (UN), sejak dari pertama diberlakukan sampai sekarang belum lepas dari kontroversi. Ada pihak yang mendukung terhadap pelaksanaan UN, tapi juga tidak sedikit pihak yang menyayangkan atas diberlakukannya UN dan meghendaki UN sebaiknya ditiadakan. Tetapi walau demikian adanya pemerintah tetap pada keputusan untuk melaksanakan UN sebagai salah satu standar kelulusan.

Walapun demikian adanya, kita sebagai pendidik, orang tua ataupun siswa tidak perlu berpolemik terhadap hal tersebut, toh UN tetap akan dilaksanakan dan kita akan menghadapinya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan matang-matang untuk menghadapinya. Dengan harapan hasil yang akan kita capai sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan baik itu orang tua, sekolah, ataupun siswa itu sendiri:

Bagi Siswa, usaha yang bisa dilakukan agar berhasil dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) adalah:
1.Selalu berdo’a dan memohon dido’akan. Karena ini adalah kewajiban kita untuk selalu memohon kepada Tuhan untuk segala keberhasilan dan kebaikan kita.
2.Biasakan shalat 5 waktu berjama’ah, shalat tahajud, shalat dhuha, serta amalan-amalan lainnya bagi muslim. Bagi yang non muslim sesuai dengan keyakinan dan ajarannya masing-masing.
3.Mohon doa restu dari orang tua.
4.Hadapilah ujian dengan tenang.
5.Bersikaplah proaktif.
6.Perbanyaklah baca dan latihan soal.
7.Belajar kelompok.
8.Menyusun rencana-rencana belajar mingguan, harian dan jam untuk rencana sesi belajar yang akan dilakukan.
9.Mengurangi waktu bermain dan memperbanyak waktu belajar.

Bagi Orang Tua, yang bisa dilakukan oleh orang tua:
1.Selalu berdo’a. Karena ini adalah kewajiban kita untuk selalu memohon kepada Tuhan untuk segala keberhasilan dan kebaikan kita.
2.Membiasakan shalat 5 waktu, shalat tahajud, shalat duha, puasa sunnah, serta amalan-amalan lainnya bagi muslim. Bagi yang non muslim sesuai dengan keyakinan dan ajarannya masing-masing.
3.Membuat kondisi belajar di rumah yang menyenangkan.
4.Kurangi beban/tugas anak, beri kesempatan belajar yang lebih banyak.
5.Kurangi waktu bermain anak yang kurang bermanfaat, seperti: main Play station, ber-Facebook-ria, keluar rumah dengan motor.
6.Berikan motivasi dan semangat belajar kepada anak.
7.Jangan selalu dimarahi. Perlakukan anak sebagai orang dewasa, ajak diskusi.
8.Beri waktu istirahat yang cukup.
9.Kendalikan dari kegiatan di luar sekolah.

Bagi Sekolah, yang bisa dilakukan oleh sekolah:
1.Melaksanakan ujian try out.
2.Melaksanakan Les.
3.Pemadatan jam pembelajaran materi UN.
4.Konseling siswa denagn konselor dan guru BK.
5.Bimbingan Emotional Spiritual Qustion (ESQ).
6.Pembiasaan shalat dhuha dan jama’ah dhuhur di sekolah.

meningkatkan prilaku baik melalui pendisiplinan pengamalan sholat berjamaah

Nama : Umi Latifah
Nim : 1210201107
Kelas : Ki-B (Smt 1)


Kita ketahui Sholat tepat pada waktunya mampu dapat membangun prestasi ibadah kita. Dalam sabda Rasulullah saw, “Amalan yang pertama dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat ialah sholat. Jika sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya, sebaliknya jika sholatnya jelek, maka jeleklah seluruh amalnya.” (HR. Thabrani).
Maka, jika sholat seseorang itu baik, ia akan beruntung dan selamat, akan tetapi jika sholatnya kurang maka ia akan merugi.Orang yang mengerjakan sholat tepat pada waktunya tidak hanya beruntung dan selamat di hari akhir, tapi juga berpengaruh pada kehidupannya di dunia. Dengan sholat tepat waktu, ia akan menjadi terbiasa tepat waktu dan disiplin pula dalam seluruh kegiatannya yang lain. Seperti yang kita tahu, bahwa disiplin adalah salah satu kunci meraih kesuksesan. Inilah yang disebut dengan prestasi yang diperoleh manusia di dunia.
Sudah jelas bahwa shaf yang lurus dan rapat dalam sholat berjamaah akan menyempurnakan sholat. Namun sayangnya masih banyak dari kita yang memiliki kesadaran akan hal ini. Meskipun sholat berjamaah, namun terkadang kita masih saja memiliki sifat egois sehingga hanya memikirkan diri sendiri dan tidak bisa berbaur dengan jamaah lainnya.
Pernahkah terjadi dalam kehidupan rekan-rekan sekalian, bersama-sama merapatkan barisan, merapatkan posisi untuk suatu hal yang kita inginkan. Misalnya saja ketika kita sedang menjalani ujian semester. Bangku-bangku disejajarkan supaya lurus dan rapi. Tak jarang pula diantara kita yang berusaha untuk mendekatkan kursi dengan teman di sebelah kita, agar kita bisa bekerja sama dengannya dan dengan harapan prestasi nilai dapat diraih dengan cara seperti itu. Belum lagi apabila jumlah mahasiswa di kelas cukup banyak, maka yang terjadi adalah kursi kita cukup berdekatan dengan teman kita itu. Dapatkah kita bayangkan apabila usaha merapatkan diri tersebut terjadi pula saat kita sedang sholat berjamaah? Sungguh Allah swt akan lebih mencintai umat-Nya.
Tidak hanya shaf nya saja yang di perhatikan dalam sholat berjamaah tetapi sangat penting kita memperhatikan kekhusyukan dalam sholat kita, menyerahkan dan memusatkan pikiran hanya kepada Allah swt. Pernahkah terbayangkanoleh kita, sholat yang kita lakukan selama ini ditolak oleh Allah swt lantaran kita tidak mengerjakannya dengan khusyuk. Rasulullah saw pernah bersabda:” Berapa banyak orang yang sholat namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah?”
perlu kita ketahui khusyuk sama dengan memusatkan pikiran dan hati kita terhadap sesuatu yang kita kerjakan. Begitupun sholat yang dilakukan dengan khusyuk, seolah-olah kita dapat melihat Allah swt di depan kita. Apabila hal ini dilakukan dengan baik, maka insya Allah akan berdampak pada kegiatan atau pekerjaan lainnya, kita melakukan pekerjaan itu dengan serius dan tidak main-main. Dengan begitu, akan timbul pula etos kerja yang professional dan penuh tanggung jawab, bukan sekedar ingin dilihat oleh pimpinan kita. Tetapi demi meningkatkan prestasi kerja kita serta beribadah kepada Allah swt. Pekerjaan kita akan memberikan efek kepuasan yang luar biasa terhadap jiwa karena kita selalu bergantung pada Allah swt yang telah memberikan rezeki.
Jadi, jika kita ingin menjadi mahasiswa yang memiliki akhlak yang baik, menjaga tingkah laku, maka kita tidak boleh meninggalkan sholat dan mengerjakan sholat tepat waktu apalagi berjamaah dan dalam sholatnya kita menjaga kekhusyuan nya agar fikiran hati kita trpusat kepada Allah Swt, penting sekali kita menjaga sholat kita, karena jika sholat kita baik maka amalan-amalan yang lainnya pun akan baik seperti prestasi dalam akademik kita.

Kamis, 23 Desember 2010

MENGAPA DOA KITA TAK TERJAWAB (tidak dikabulkan)

NAMA : MUHAMMAD ABDUL ROJAK
NIM : 1210201069
JURUSAN : KEPENDIDIKAN ISLAM

MENGAPA DOA KITA TAK TERJAWAB(tidak dikabulkan)
Diantara nama Allah adalah Almannan, yang artinya suka member, member karunia, dan memberi anugrah. Dan Allah sangat suka jika diminta. Bahkan ia begitu murka kepada orang-orang yang tak mau meminta kepada-Nya. Sebab orang yang tak mau meminta-Nya, sama halnya ia telah congkak, sombong, dan seolah-olah tak membutuhkan-Nya.
Allah Swt berfirman dalam Qs Almukmin ayat 60 yang artinya ; "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".
Allah telah berjanji akan mengabulkan do’a orang –orang yang meminta kepada-Nya ; Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala Perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(QS. Albaqarah;186).
Karena sedemikian cinta-Nya Allah kepada hamba-hamba-Nya, Ia memerintahkan agar mereka meminta. Allah memberi hamba-Nya dengan tidak mengharapkan pembalasan mereka. Allah member bukan karena memerlukan mereka. Namun Ia memberi agar mereka semakin mencintai-Nya, mengagungkan-Nya, dan menghambakan kepada-Nya. Mari kita ketahui bahwa diantara factor terkabulnya do’a seorang hamba adalah membiasakan diri menyatap makanan yang halal.
Dikisahkan, Bahwasannya nabiyullah Musa pernah melewati seseorang yang sedang berdiri dan tengah berdo’a serta merendahkan diri sangat lama sementara Musa a,s. terus menerus melihatnya. Maka kemudian berkatalah Musa a,s; “Wahai Tuhan, mengapa Engkau tak kunjung-kunjung memenuhi permintaan seorang hamba-Mu ini?
Seketika itu Allah swt mewahyukan kepada Musa; “Hai Musa, sekiranya ia menangis hingga binasa dirinya dan mengangkat tanganya tinggi-tinggi hingga sampai pada kaki-kaki langit, niscaya permohonan do’anya tidak akan dikabulkan !
Musa a,s bertanya ; kenapa hal itu bisa terjadi ? terdapat santapan-santapan haram, diatas punggungnya terdapat barang-barang haram dan rumahnya terdapat barang-barang haram. Rasulullah saw bercerita ; “Ada seorang laki-laki yang mengadakan perjalanan sekian lama, hingga rambutnya kusut masai dan berdebu, sedangkan ia menengadahkan kedua tanganya ke langit seraya memohon “ Wahai Tuhan,Wahai Tuhan” sementara makanan yang disantapnya adalah dari harta yang haram dan meminumnya adalah dari harta yang haram, dan pakaian yang dikenakannya juga berasal dari harta yang haram, dan menyantap makanan haram, maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?(HR.Muslim)
Ibrahim bin Adam pernah melewati pasar Bashrah, kemudian ia dikerumuni orang lalu mereka bertanya kepadanya ; “Hai Abu Ishaq, kenapa kita berdo’a namun taj kunjung juga dikabulkan Allah ?
Ibrahim bin Adam menjawab ; Penyebab itu adalah sebab hati kalian telah mati karena sepuluh perkara, yaitu ;
1. Kalian mengetahui hak Allah swt namun enggan menunaikan hak-Nya.
2. Kalian menyatakan cinta kepada Rasulullah saw namun kalian tinggalkan sunnahnya.
3. Kalian membaca Alqur’an, namun tidak juga mengamalkannya.
4. Kalian menyantap makanan dari nikmat Allah namun kalian tidak mensyukurinya.
5. Kalian mengatakan setan adalah musuh kalian, namun kalian justru ikut ajakannya.
6. Kalian mengatakan jika surga itu pasti ada, namun kalian tidak mempersiapkan amal untuk mendapatkannya.
7. Kalian mengatakan jika neraka adalah sebuah kepastian, namun kalian tidak melarikan diri darinya.
8. Kalian mengatakan jika kematian itu adalah suatu kepastian, namun kalian tidak mempersiapkannya.
9. Jika kalian bangun tidur, kalian malah sibuk mengurus aib orang lain sementara kalian melupakan aib kalian sendiri.
10. Kalian sering memakamkan orang mati,namun kalian tidak mengambil pelajaran dari padanya.

Mari kita renungi ucapan Ibrahim bin Adam ini. Kita koreksi kelakuan-kelakuan diri kita sendiri. Kita teliti mengapa do’a kita terkadang tak kunjung dikabulkan. Marilah kita bertanya; Sudahkah nasehat Ibrahim bin Adam ini kita tunaikan dengan baik ? Sudahkah pesannya kita praktekkan dalam kehidupan seharian kita.

Jum’at,24 Desember 2010. 11:00

Rabu, 22 Desember 2010

sampah dimana-mana

Nama : umi latifah
Nim : 1210201107
Kelas : ki-B

Kita ketahui dimana-mana banyak sampah, sampah yang mengakibatkan lingkungan menjadi tidak sehat, tidak bersih, dan juga tidak nyaman di pandang. Banyak masyarakat yang dengan sadar nya membuang sampah sembarangan tanpa mereka memikirkan akibat dari perbuatan mereka. Akibatnya sampah yang menumpuk dapat menyumbat aliran air yang ada di selokan-selokan dan di sungai-sungai.
Pemerintah pun belum dapat menanggulangi dan belum bisa berbuat apa-apa terhadap masalah sampah ini, buktinya hampir setiap tahun didaerah bandung terkena banjir, tapi pemerintah belum melakukan apa-apa hingga saat ini. kita perhatikan pula di daerah jakarta di bawah kolong jembatan banyak sekali penumpukan sampah, dan juga banyak masyarakat yang tinggal di sana yang kesehariannya berhadapan dengan banyak sampah. Dan pemerintah pun belum bisa berbuat apa-apa.
Tapi tidak semua masyarakat seperti itu adapila diantara mereka yang memanfaatkan sempah sebagai bahan mata pencaharian dan adapula yang mengolah sampah menjadi sesuatu yang unik, hasil dari kekreatifan mereka sehingga dapat menghasilkan uang, seperti plastik-plastik bekas yang di sulap menjadi tas, dompet, dan hiasan-hiasan lainnya.
Saya mengajak rekan-rekan semua, mari, kita membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga lingkungan di sekitar kita dari pencemaran sampah, kalau bukan kita sendiri yang sadar siapa lagi, karna dimulai dari kita lah jika kita semua ingin melihat lingkungan yang sehat.





Sabtu, 18 Desember 2010

Sukses Bukan Pilihan


Nama : Nurhadi Anshori
Kelas : KI-B
NIM : 121 020 1077
Sukses Bukan Pilihan

Bagi banyak orang kegagalan adalah sebuah musibah. Apa benar seperti itu? Untuk orang-orang yang berpikir picik mungkin benar, tapi bagi orang yang selalu berpikir positif tidak seperti itu. Orang yang berpikir positif akan selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada.
Setiap manusia di dunia ini pasti ingin sukses. Kenapa mereka ingin sukses? Sukses itu sulit, akan tetapi lebih sulit lagi jika kita tidak sukses. Oleh karena itu, kita tidak punya pilihan lain selain sukses. Sukses bukanlah pilihan, tapi sukses adalah tuntutan. Semua orang berhak sukses dan harus sukses. Tidak ada orang gagal di dunia ini, yang ada hanyalah orang yang berhenti sebelum sukses. Thomas Alfa Edison, seorang penemu bola lampu. Dia telah beratus-ratus kali melakukan percobaan hingga akhirnya dia berhasil pada percobaan yang ke-1000. Coba kita bayangkan seandainya Thomas berhenti pada percobaannya yang ke-500 atau berhenti pada percobaannya yang ke-999, niscaya bola lampu itu mungkin tidak akan ditemukan sampai sekarang, kalaupun bola lampu itu ditemukan maka bukan Thomas yang menemukannya dan Thomas akan menyesal pada akhirnya.
Setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana cara menutupi kekurangan kita dengan kelebihan kita. Semuanya punya potensi untuk menggapai kesuksesan, tergantung bagaimana cara kita mengembangkan potensi yang ada. Sukses tidak selalu harus berupa materil, tapi bisa berupa hal lain. Sukses itu mempunyai batasan dan kita yang harus membatasinya. Saat orang yang miskin bercita-cita menjadi orang kaya kemudian ia berhasil menjadi kaya, maka ia dapat dikatakan sukses. Namun, orang miskin yang tidak bercita-cita menjadi kaya kemudian ia menjadi kaya, maka ia tidak dapat dikatakan sukses.
Untuk menuju sukses harus banyak aksi, jangan NATO alias No Action Talk Only. Dan dalam melakukan sebuah aksi dibutuhkan keberanian, kesabaran dan keikhlasan.
1.      Keberanian dibutuhkan untuk memulai aksi, setelah memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin akan dialami rasa takut biasanya datang menghampiri, sehingga banyak orang tidak jadi melakukan hal yang sudah direncanakan sebelumnya. Oleh sebab itu kita butuh keberania untuk memulai aksi kita.
2.      Kesabaran diperlukan dalam menjalani proses yang panjang. Kerap kali orang ingin sukses dalam waktu instan, padahal untuk sukses itu membutuhkan proses yang panjang, butuh usaha yang keras. Kebanyakan orang tidak sabar dalam menjalani proses tersebut sehingga banyak yang mundur di tengah jalan. Dan disanalah bukti dibutuhkannya kesabaran.
3.      Keikhlasan dibutuhkan untuk menerima hasil akhir dari semua proses yang kita jalani. Hasil akhir dari suatu proses tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan. Oleh sebab itu, keikhlaskan sangat dibutuhkan untuk mengobati hati yang tidak puas dengan hasil akhir yang dicapai sehingga orang itu tidak terus-terusan terpuruk memikirkan hasil akhir yang kurang memuaskan dan cepat bangkit kembali untuk memperbaiki semua kekurangannya.