Rabu, 06 Oktober 2010

BROKEN HOME
Oleh Rina Rahmawati
Kelas : KI-B

 
Sering sekali istilah broken home kita temui, seperti situasi keluarga yang berantakan karena orangtua tidak peduli sama keluarga, keadaan yang bikin kita tidak betah di rumah, dan kondisi yang tidak harmonis bisa disebut broken home.
Sebagian orang mengatakan, broken home akan berakhir pada perpisahan atau perceraian suami-istri yang dilandaskan pada keputusan terbaik. Mungkin iya untuk mereka, tapi apa itu juga yang terbaik untuk kita sebagai anak????
Kita sebagai anak yang biasa dijadiin korban pasti bingung harus gimana. Bisa kita jadi murung, sedih, dan malu. Kita juga jadi hilang pegangan dari orangtua yang seharusnya membimbing kita. Tidak ada satu orang pun yang menginginkan keadaan keluarga seperti ini. Kita harus bangun dari "mimpi buruk" itu….
1. Tidak boleh menyerah pada keadaan. Coba bicara sama orangtua untuk membicarakan masalah yang ada sampai menemukan kunci buat menyelesaikannya.
2. Kalau tidak berhasil menyatukan, kita tetap harus selalu berfikir positif sama apa yang terjadi. Kita harus coba menerima dan tegar. Jauhkan segala pikiran buruk yang bisa menjerumuskan kita menuju kehancuran atau malah menyiksa diri sendiri.
3. Cobain hal-hal baru yang menantang, seperti hiking, rafting, atau olahraga alam. Yang bisa membuat kita lebih segar dan melupakan hal-hal buruk.
4. Kita tidak sendirian ! Kamu bisa cari tempat untuk cerita-cerita.Tapi, yang pasti cuma orang-orang tertentu yang bisa dipercaya aja. Jangan sembarang orang!
5. Bangun dari mimpi masa lalu. Kita harus belajar menyadari bahwa di balik keputusan orangtua yang nyakitin kita, larut dalam keadaan tidak membuat kita sehat atau mendapatkan kebahagiaan yang kita inginkan. Buktikan kalau kita bisa. Buktikan kalau kita tetap sama seperti anak lain. Buktikan kalau kita bisa memberi yang lebih baik daripada yang lain. Tetap berusaha dan semangat ! Itu kuncinya.
6. "Take a new position at our home". Mungkin setelah tidak ada lagi orangtua di rumah, kita bisa mengambil posisi mereka di rumah. Kita belajar untuk lebih dewasa dan kita bisa belajar bertanggung jawab lebih besar dibandingkan anak-anak lain.
7. "Let the history be the history and do something for the future". Masa lalu biarkan saja jadi masa lalu, jangan terus menerus menyalahkan apa yang sudah terjadi. Ingat, kita tidak hidup untuk masa lalu, tapi untuk masa depan. Jangan jadi minder sama keadaan kita yang bukan dari "happy family". Justru jadikan itu motivasi untuk masa depan yang lebih baik.
8. "Don’t waste your time just for something useless". Jangan pernah tertarik sama narkoba atau hal-hal negatif semacamnya. Pelarian seperti itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Justru semakin menambah masalah.
9. "Keep praying". Tuhan pasti selalu member jalan yang terbaik untuk kita. Walaupun kadang-kadang kita merasa tidak dikasih keadilan, suatu saat kamu pasti tahu. Kita benar-benar sudah dikasih apa yang terbaik dan yang paling baik di antara semuanya.

sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/09/muda/



terangdunia.com—Pada saat usia remaja Presiden Susilo Bambang Yodhoyono (SBY) menyaksikan kedua orangtua yang dikasihinya bercerai. Menurut Majalah Tempo, akibat perceraian itu membuat penampilan SBY menjadi tidak lagi bersih. Padahal sejak kecil SBY sudah terbiasa terawat rapi, maklum keturunan ningrat.

Akibat ditinggal sang ayahnya yang kawin lagi dengan seorang janda kembang membuat SBY juga harus hidup sederhana dengan sang ibu. Hal lain ternyata akibat perceraian itu membuat SBY menjadi kurang percaya diri.

Namun di pihak lain keadaan keluarga yang berantakan ini justru memicu SBY untuk menjadi orang yang berhasil. Iapun bertekad untuk menjadi orang sukses yang akan mengangkat harkat dan martabat keluarga. Maka sepanjang menjadi taruna AKABRI ia memiliki prestasi gemilang. Demikian pula dalam karir militer ia membuktikan sebagai seorang yang hebat. Bahkan selama memimpin Indonesia 5 tahun ini, SBY sang Presiden benar-benar menunjukkan bahwa meskipun keluarga broken home, hidupnya berhasil memimpin 200 juta lebih rakyat Indonesia.


Menjadi Presiden membuat SBY bukan hanya berhasil menepis anggapan bahwa anak broken home tidak bakal sukses. Melainkan juga membuktikan dirinya sendiri menjadi orang sukses meskipun mengalami kepahitan di masa lalu.

Kehidupan ternyata seperti roda. Suatu saat anda ada di bawah, tapi di pihak lain anda pasti akan ada di atas. Tinggal menunggu waktunya saja. Jika sabar dan bertekad bulat ditambah iman yang teguh akan membuat anda berhasil dikelak kemudian hari. Nah sekarang ini mungkin anda menangis karena keluarga broken home, namun itu bukan berarti kiamat. Sang Presiden sudah membuktikan bahwa keluarga yang berantakan tidak dapat menghalangi kehidupannya untuk berhasil dan berbahagia.




Broken home sering kali membuat mental anak menjadi terganggu. Namun ada pula yang menjadi sukses seperti yang di alami SBY. Jadi untuk kalian yang memang anak broken home jangan sedih , kalian harus bangkit dari permasalahan yang ada . Harus selalu berfikir posifif . Lihatlah SBY, yang merupakan anak broken home tapi sekarang ia justru menjadi orang yang sangat sukses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar